| Rabu, 18 Februari 2009 12:12 |
Pihak Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga tak main-main dengan rencana mengajukan Indonesia sebagai calon tuan rumah Piala Dunia. Untuk bisa ke sana, tim sepakbola Indonesia ditargetkan masuk jajaran elit di Asia. Setidaknya itu dikatakan oleh staf ahli Menegpora, Djohar Arifin, pada acara seminar bertajuk "Masa Depan Sepakbola Indonesia" Manhattan Hotel, Jakarta, Rabu(18/2/2009) pagi WIB. Menurutnya, Indonesia harus bisa melakukan pengembangan sepakbola usia muda agar di masa mendatang dapat bersaing dengan raksasa Asia macam Jepang, Australia atau Korea Selatan. "Target kita harus menjadi 8 besar Asia di 2015 nanti. Dan pengembangan sepakbola di usia dini menjadi kunci menuju ke sana," papar Djohar, yang juga pernah menjadi Sekjen KONI Pusat itu. Ia melanjutkan, masalah utama mandeknya pembinaan usia muda di Tanah air adalah minimnya jumlah pelatih dan kualitas dari pelatih itu. Idealnya satu pelatih untuk 24 pemain, tapi kenyataannya sekarang adalah satu pelatih untuk 400 orang. "Persiapkan tim teknis secara benar yang bertugas untuk mengembangkan timnas dan pemain nasional kita. Dan buatlah juga pusat pelatihan agar pembinaan lebih berjalan," ujarnya. Djohar mengatakan, untuk menjadi tim elit Asia, haruslah ada program khusus dalam pembinaan pemain muda dan tidak boleh ada perbedaan mencolok kemampuan pesepakbola nasional dengan pemain Asia lainnya. "Harus ada peningkatan teknik, kekuatan dan mental, jangan menggunakan metode konvensional." "Pengembangan talenta pemain berdasarkan kemampuannya, disertai lingkungan sekitar yang optimal, menjadi resep jitu pemain muda kita mencapai standar Asia,” imbuh Djohar. [detik] |
Indonesia incar delapan besar di Piala Asia 2015
PSSI Tertibkan Sekolah Sepakbola
TEMPO Interaktif, Jakarta:Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) segera menertibkan sekolah sepakbola yang bertebaran di seluruh nusantara. Penertiban dilakukan dengan melakukan akreditasi atas kualitas sekolah yang bersangkutan. “Sebagai langkah menuju akreditasi itu, PSSI kini menekankan agar pelatih sekolah sepakbola memiliki ijasah youth assistance degree,” kata Humas PSSI, Eddi Elison, Jumat (2/3), di kantornya, Jakarta.
Untuk memudahkan perolehan ijasah itu, lanjut Eddi, PSSI mulai bulan Februari menggelar kursus pelatihan di berbagai daerah. Kursus pertama digelar pada 18-26 Februari di Sumatra Utara dan diikuti 56 pelatih dari berbagai sekolah sepakbola se-Sumatra utara. Kursus berikutnya akan digelar 7-16 Maret di Pontianak, Kal-Bar.
Untuk pelaksanaan kursus ini, PSSI menyerahkannya kepada pengurus daerah (Pengda) PSSI setempat. PSSI hanya memberikan fasilitator berupa tenaga pelatih yang akan mengajar, dalam hal ini telah ditunjuk mantan pemain nasional Bambang Nurdiansyah.
Menurut Eddi, langkah yang diambil PSSI di atas tak lepas dari kualitas sekolah sepakbola yang belum seragam. “Banyak sekolah yang asal comot pelatih. Ini tentu memprihatinkan, mengingat di sekolah sepakbola inilah pondasi pemain bola dibentuk,” kata dia.
Untuk meningkatkan kualitas sekolah sepak bola, PSSI dikatakan akan menggelar pertandingan antarsekolah sepakbola di wilayah Pengda. Sekolah terbaik akan dipertandingkan secara nasional. Jumlah sekolah sepakbola sekarang ini sudah mencapai ribuan. “Namun, persisnya kami tak tahu. Karena, izin mendirikan diberikan pengda PSSI dan sampai sekarang belum ada data tentang itu,” kata Eddi. (Nurdin)
Sekolah Sepak Bola Perlu Kurikulum Standar
JAKARTA, RABU — Sepak bola Indonesia membutuhkan kurikulum standar untuk mencetak pemain-pemain berbakat agar bisa bersaing dengan negara-negara lain. Kurikulum ini perlu diterapkan dan menjadi standar di sekolah-sekolah sepak bola (SSB).
Ketua Yayasan Akademi Sepak Bola Intinusa Olah Prima (AS-IOP), Bob Hippy, menegaskan, ketiadaan kurikulum standar seperti itulah yang membuat persepakbolaan di Indonesia tidak maju. "Untuk meningkatkan profesionalisme sepak bola khususnya SSB di Indonesia, maka kita membutuhkan kurikulum pelajaran sepak bola," ujar Bob di acara Seminar Masa Depan Sepak Bola Indonesia di Jakarta, Rabu (18/2).
Dengan kurikulum standar itu, SSB dapat menerbitkan rapor yang menunjukkan prestasi sepak bola masing-masing pemainnya. Rapor inilah yang nantinya akan digunakan untuk menanggapi para orangtua siswa yang mempertanyakan soal kemampuan anaknya. Rapor ini juga bisa digunakan sebagai patokan jika orangtua ingin menempatkan anak-anaknya di sekolah-sekolah sepak bola di negara lain yang lebih maju.
"Selama ini 'kan orangtua selalu protes, kenapa kok anaknya tidak diajak bermain atau masuk tim. Nah, dengan adanya rapor ini, 'kan nantinya bisa dikasih tunjuk ke orangtua," papar Bob.
Bob mengaku, saat ini dirinya sudah mempunyai kurikulum yang dibuatnya sendiri. Namun, ia masih akan berbicara kepada PSSI untuk menyempurnakan kurikulum buatannya tersebut. Ia juga akan melakukan studi banding ke Malaysia, yang sudah memiliki kurikulum standar.
Kompas.com C3-09
Pihak Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga tak main-main dengan rencana mengajukan Indonesia sebagai calon tuan rumah Piala Dunia.