Pembinaan usia dini menjadi basis pengembangan sepak bola Indonesia di masa depan.

"Aku Ingin Seperti Drogba..."

Dua bocah ini sudah lama tak terlihat bersama. Sejak enam bulan lalu, keduanya, untuk sementara, berhenti berlatih sepak bola di Akademi Sepak Bola Intinusa Olah Prima (ASIOP) karena harus menghadapi ujian akhir sekolah. Raditya Kenzo Mentari, 12 tahun, adalah siswa kelas VI SD 010 Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Sedangkan Khairul Rahman, juga siswa kelas VI berusia 12 tahun, adalah siswa SD Cenderawasih Blok O, Kebayoran Baru.

Sebelumnya, setiap Sabtu sore, Kenzo dan Khairul bertemu di lapangan ABC di kawasan Gelora Bung Karno. Meski demikian, orang tua kedua bocah ini tak lantas membuyarkan cita-cita anak-anak mereka. "Aku ingin seperti (Didier) Drogba," kata Kenzo. "Francesco Totti hebat, aku ingin seperti Totti," kata Khairul, yang lahir di Roma, Italia.

Keceriaan Kenzo dan Khairul, yang bercita-cita ingin menjadi pemain besar, terlihat di wajah bocah-bocah lain ketika mengikuti putaran final Festival Sepak Bola U-13 di lapangan tim nasional kompleks Gelora Bung Karno, pertengahan Maret lalu. Festival bagi anak-anak usia di bawah 13 tahun itu sekaligus menjadi ajang seleksi pembentukan tim nasional U-13 ke Festival U-13 Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) di Sabah, Malaysia, 24 Mei hingga 6 Juni mendatang.

"Membina perilaku bermain sepak bola dan mencari pengalaman lebih penting ketimbang mengejar gelar juara, Itulah inti pembinaan sepak bola usia muda," kata Taufik Effendi Jursal, penanggung jawab Festival U-13 dan Program Grassroot Sepak Bola Indonesia 2020.

Pembinaan sepak bola di usia dini menjadi pilihan utama karena membangun sepak bola nasional harus dimulai dari bawah. Pembinaan usia dini menjadi basis pengembangan sepak bola Indonesia di masa depan. Sepak bola modern tidak lagi mengandalkan pencarian berdasarkan bakat alami pemain. Sepak bola sekarang sudah terukur dan didukung teknologi tinggi. Sepak bola juga sudah berubah menjadi industri olahraga.

Banyak klub di Eropa dan Amerika Latin melakukan pengembangan pemainnya sejak usia dini dengan memiliki akademi sendiri. Akademi sepak bola menjadi pemasok pasti para pemain sepak bola yang dibutuhkan klub. "Akademi itu adalah investasi terbaik bagi klub, jauh lebih murah ketimbang membeli pemain yang sudah jadi," kata Taufik.

Mantan pemain sekaligus kapten Liverpool, Steve McMahon, mengatakan klub harus melakukan pembinaan pemain sejak usia dini jika ingin berhasil membangun sebuah tim. "Kebanyakan tim hanya membeli pemain yang sudah jadi, itu tidak bagus," ujar McMahon dalam sebuah seminar tentang investasi olahraga di Jakarta, Maret lalu.

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia kini mempersiapkan membangun tim nasional. Tim Program Grassroot bersama Badan Tim Nasional mempersiapkan tim nasional dengan membina pemain usia muda. Mereka menggelar Festival SSB di seluruh Indonesia yang juga menjadi ajang seleksi pemain muda yang akan dikirim ke Akademi Sepak Bola di Tangerang. "Tahun depan akan dibangun akademinya, para pemainnya akan masuk database awal PSSI dan mereka akan terus dipantau," kata Taufik.

Menanamkan pendidikan sepak bola bagi anak-anak tidaklah mudah. Itulah sebabnya, sepak bola harus dibuat sebagai hal yang menyenangkan. "Tanamkan pada anak-anak: soccer is my hobby," kata Taufik. Bimbingan orang tua juga dibutuhkan karena, selain gen, latar belakang dan dukungan keluarga akan menentukan hasilnya. "Makanya banyak orang tua yang menonton anaknya bertanding sepak bola. Anak-anak suka itu, mereka merasa diperhatikan," katanya.

Kenzo dan Khairul pasti suka diperhatikan dalam mewujudkan cita-cita menjadi pemain besar. Tapi mereka tidak bisa meninggalkan sekolah. YON MOEIS | GABRIEL WAHYU TITIYOGA

Medco Perpanjang Kontrak Liga Medco

16/01/2009 - 23:25

Arifin Panigoro
(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta - Medco Foundation akhirnya sepakat untuk melanjutkan kontrak selama tiga tahun untuk bekerjasama dengan PSSI dalam kompetisi Liga Medco 2009-2011.

Menurut pemilik Medco Grup, Arifin Panigoro seusai penandatanganan MU dengan PSSI yang diwakili Sekretaris Jenderal PSSI, Nugraha Besoes di Jakarta, Jumat (16/1), pihaknya sepakat untuk melanjutkan kerja sama ini.

“Perpanjangan kerjasama ini juga merupakan upaya meneruskan cita-cita Bung Ronny untuk memajukan sepak bola Indonesia di masa mendatang. Karena masa depan sepak bola kita ada di pembinaan usia dini,” ujar Arifin.

Arifin menambahkan, Medco tetap fokus pada pembinaan usia dini sejak 2006. Tak kurang lebih dari 1000 pesepakbola berbakat lahir dari turnamen ini. Mereka pun dijaring untuk skuad Timnas sepak bola U-15 dan U-16. Bahkan ikut program U-17 di Uruguay.

Pada kesempatan itu, ia berharap pemerintah ikut membantu dalam bidang pendidikan pemain muda itu dalam bentuk sekolah khusus. Ia melihat pemain muda ini yang akan menjadi tulang punggung Timnas beberapa tahun mendatang.

Menyangkut buku tulisan almarhum Ronny Pattinasary yang pernah menjabat ketua pembinaan PSSI dan pengelola Liga Medco ini, Arifin menyambut baik diluncurkan buku tersebut.

Menurut Arifin sekali lagi, buku ini bisa menjadi inspirasi bagi siapapun bagi orang-orang yang mencintai sepak bola Indonesia dan ingin memajukannya.

“Saya tidak lama kenal Ronny, dia adalah hero, juara sejati,” tegas kader PDIP ini.[S1]

LIGA MEDCO 2008




Arifin Panigoro: Pesepakbola Muda Merupakan Aset Nasional

Jakarta, 25 April 2008 – Pendiri Medco Group Arifin Panigoro menyatakan masa depan sepakbola Indonesia ada di pemain-pemain muda.

“Pada penyelenggaraan tahun ketiga kompetisi Liga Medco kami mengangkat tema We Are the Champion, We Are the Future. Karena para pesepakbola muda ini merupakan aset nasional kita. Mereka harus bermental juara untuk meraih masa depan kejayaan sepakbola Indonesia,” ungkap Arifin Panigoro di hadapan para wartawan yang menghadiri konferensi pers Liga Medco 2008 di Griya Jenggala, Jakarta Selatan, Jumat (25/4) siang.

Hasil sangat positif dan membanggakan dari Liga Medco sudah terbukti dari penyelenggaraan dua tahun sebelumnya. Para pemain dari Liga Medco sudah mengorbit menjadi para pemain andalan tim nasional sepakbola U-16 dan U-17. Faktanya, tak kurang dari 60 pemain dari Liga Medco terjaring mengikuti seleksi tim nasional Indonesia U-16 dan U-17.

Pada Agustus 2007 lalu, para pemain dari Liga Medco menjadi pemain inti timnas U-17 yang meraih posisi keempat kejuaraan resmi AFF U-17 di Phonm Penh, Kamboja, dari sembilan negara ASEAN yang berpartisipasi. Berikutnya, pada November, para pemain dari Liga Medco pun menjadi pemain inti timnas U-16 di kejuaraan resmi AFC U-16 dengan prestasi menjadi runner-up grup dan akan tampil di putaran final AFC U-16 tahun ini yang akan berlangsung di Uzbekistan bulan Oktober mendatang.

“Saat ini, hampir seluruh pemain terbaik Liga Medco menjadi skuad inti timnas U-16 Indonesia yang berlatih di Uruguay dan ikut kompetisi di sana. Hasil ini sangat membanggakan. Karena Liga Medco sudah berhasil menjadi wadah para pesepakbola muda Indonesia berkompetisi menjadi yang terbaik,” tambah Arifin.

Sementara itu, menurut Ketua Penyelenggara Liga Medco 2008 Ronny Pattinasarany, 29 tim sudah menyatakan siap bertanding di Liga Medco yang akan berlangsung 11 Mei – 29 Juni 2008. Hanya empat tim belum memberikan kepastian.

Pada babak pertama, berlangsung di 8 kota, akan dibagi dalam empat grup. Tiap grup rata-rata terdiri dari 4 tim. Juara dan runner-up grup akan melaju ke babak kedua. Delapan provinsi sudah siap menjadi penyelenggara babak pertama yang berlangsung 11 – 25 Mei mendatang, yaitu Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Maluku.

Di babak kedua, berlangsung di empat kota, 16 tim yang melaju terbagi dalam 4 grup (tiap grup terdiri dari 4 tim peserta). Juara dan runner-up grup akan lolos ke putaran final. ”Kami memberikan kesempatan kepada 16 tim yang lolos ke babak kedua untuk menjadi tuan rumah. Sehingga penentuan empat kota yang akan menjadi tuan rumah baru ditentukan setelah babak pertama Liga Medco. Babak kedua akan berlangsung pada 11 – 15 Juni 2008,” jelas Ronny Pattinasarany, mantan kapten timnas Indonesia ini.

Untuk putaran final, berlangsung di Yogyakarta pada 21 – 29 Juni, 8 tim yang lolos dibagi dalam dua grup (tiap grup terdiri dari 4 tim peserta). Juara dan runner-up grup akan lolos ke semifinal dan memperebutkan dua tiket ke final. Dipilihnya Yogyakarta sebagai tempat penyelenggaraan putaran final, menurut Ronny, untuk membangkitkan gairah sepakbola di kalangan usia muda di daerah-daerah. Seperti diketahui putaran final Liga Medco dua tahun sebelumnya berlangsung di Bandung (2006) dan Jakarta (2007).

”Kita tahu Yogyakarta itu juga merupakan salah satu sentra pembinaan sepakbola nasional. Banyak pemain timnas Indonesia dulu berasal dari Yogya. Semoga saja dengan penyelenggaraan putaran final Liga Medco di Yogyakarta, anak-anak muda di sana lebih bergairah lagi untuk bercita-cita menjadi pemain nasional,” kata Ronny.

Karena pesepakbola muda merupakan aset nasional, pada penyelenggaraan Liga Medco 2008 seluruh pemain yang tampil di putaran final akan dilindungi dengan asuransi. “Kami ingin para pesepakbola usia muda yang tampil di Liga Medco 2008 terlindungi masa depannya. Kami memberikan perlindungan asuransi agar mereka merasa aman dan nyaman saat bertanding. Sehingga mereka bisa tampil maksimal menunjukkan ketrampilan terbaik di atas lapangan. Kami berharap ada satu dua pemain dari Liga Medco yang nantinya punya kemampuan bermain sepakbola seperti Cristiano Ronaldo,” papar Direktur Medco Foundation Roni Pramaditia. Seperti diketahui, Medco Foundation merupakan sponsor utama Liga Medco. (*)


Untuk informasi Liga Medco lebih detail, dapat menghubungi:
Ketua Penyelenggara Liga Medco
Ronny Pattinasarany
081 197 1978